Holla epribody, for your head too, what the mean of body without head :P



Beberapa bulan ini saya sering banget liat video stand-up comedy via youtube. beberapa saya unduh dan simpan di laptop. 

Nah, dari perselancaran saya di pantai youtube distrik stand up comedy, beberapa kali saya menemukan komentar peselancar lain yang rasanya kok nyelekit banget. Sebenarnya sering juga sih menemukan konsep komen serupa, misalnya di distrik musik atau di distrik video-video lucu. Namun, saya ngerasa "terbakar" saja ketika komentar tersebut ada di distrik stand up comedy, padahal saya bukanlah comic atau stand up comedian, paling banter jam terbang saya cuma open mic, itu juga njajal saja. sekitar 2-3 tahun lalu.

Komentar-komentar itu seperti apa ya bahasanya, ya kita anggap saja menggerutu-lah, soal performa comic yang di lihatnya di distrik stand up comedy pantai youtube. Ada yang mengatakan perihal kegaring materi, ada pula yang menggerutu soal materi yang sudah pernah dibawakan, style (atau karakter) comic yang gitu-gitu aja dll.

Aneh saja jika mereka mengatakan begitu, mereka telah melupakan tawa pertama ketika comic yang (mungkin) digerutui nya membawakan meteri yang belakangan dia cap "materi lama yang selalu dibawa-bawa". Membuat materi stand up comedy bukanlah hal yang mudah, sulit, sekali lagi sulit. Pun menciptakan karakter diri atau apa ya bahasanya (Persona?) seperti contoh Abdur dengan ketimurannya, Cak lontong dengan gaya bijaknya, Dzawin dengan Kesantriannya, Mongol dengan pengetahuan "homo" nya, Muddy Taylor dengan gitar nya dll. Kesemua itu melalui proses panjang, bahkan pemikiran jungkir balik, demi apa? demi tawa, ya tawa yang menyaksikan mereka berdiri ditemani stand mic.

Materi bagi seorang comica adalah senjata, hari ini dibawakan di sini, esok disana. dan para peselancar youtube menyaksikan rekaman mereka ya disini dan disana. tentu saja mereka akan "menghakimi" comic membawakan materi yang di ulang-ulang, nah mereka aja melihatnya via youtube. udah gratis minta ketawa ngakak pula, enak banget idup lo :)))

Lantas apa tujuan tulisan ini?

Tulisan ini hanya mencoba menggeser mind-set penonton stand up distrik youtube. bahwa melihat stand up bukanlah seperti melihat musik di youtube, kalian mungkin tidak akan protes menyaksikan misal aja sebuah grup musik bernama YEI-UELAH membawakan hitsnya yang berjudul "Let it bro" di youtube dengan lokasi yang berbeda, ada yang live di Dashyat ada yang di Imbox ada yang di pengkolan. mengapa tak melakukan itu saat melihat stand up comedy?

Jika kalian memang tetap menginginkan materi yang segar dan baru dari para comic, mungkin tiap video di youtube bisa dihargai 15.000 sekali tonton, setuju?

Kalau saya sih nggak :P


Share on Google Plus

About Bejo Kampungan

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments :

Post a Comment